Tampilkan postingan dengan label OPINI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label OPINI. Tampilkan semua postingan

Senin, 27 Maret 2017

Mencerna Berita HOAX

Oleh: Riki Maulana
Kabid PPD HMI Cabang Sintang

     Cepatnya arus informasi tidak diiringi dengan kemampuan dalam memilah informasi antara yang benar dan palsu (hoax). Budaya literasi masyarakat yang rendah menyebabkan kekurang pahaman dalam memilah informasi. Hanya dengan membaca judul berita yang terkesan provokatif masyarakat pengguna media sosial cenderung cepat merespon berita tersebut dengan langsung ikut menyebarkan dimedia sosial tanpa tahu tentang kebenaran isi berita yang ia bagikan. Akhir-akhir ini banyak sekali berita hoax yang bertebaran didunia maya yang beriskan tentang fitnah, ujaran kebencian dan bahkan berita yang mengadu domba.

     Hoax (baca : hoks) menurut Menurut ahli bahasa Inggris, Robert Nares (1753-1829) hoax berasal dari kata hocus yang berarti 'to cheat' alias menipu. Bahkan hocus sendiri merupakan kependekan dari mantra sihir hocus pocus, yang tenar pada abad pertengahan. istilah hoax jika ditelusuri memang sulit dtemukan asal-usulnya. hoax memiliki akar yang panjang seiring dengan cakupan akibatnya yang cukup buruk pada publik luas. Dan di jaman dimana informasi tersebar dengan begitu mudahnya, hoax pun dengan begitu mudah tersebar.

     Hoax adalah sebuah kejahatan informasi yang dilakukan untuk mempengaruhi opini publik agar masyarakat mempercayai informasi yang berwarna abu-abu atau bahkan palsu dan menganggapnya sebagai suatu kebenaran umum. Media sosial ini sudah terlalu dijejali dengan informasi, tak butuh lagi polusi informasi. Perkembangan teknologi informasi yang semakin memudahkan kita untuk mendapat dan menyeberluaskan informasi seharusnya menjadikan kita semakin cerdas dalam menyeleksi dan mencerna informasi. Kita harus membangun filter sendiri. Negeri ini butuh kedamaian, salah satu langkah kecilnya adalah berhenti menyebar informasi hoax atau yang masih buram kebenarannya.

     Informasi menarik dan provokatif yang tersebar didunia maya tak selalu benar. Begitu juga informasi yang viral, belum tentu juga benar. Berhentilah memperkeruh suasana dengan menyebar hoax. Menyebarluaskan informasi hoax hanya akan menunjukkan kebodohan kita sendri dan dapat memicu ketegangan dan keresahan.Baru-baru ini kita dihebohkan dengan isu penculikan anak yang meresahkan sehingga menyebabkan masyarakat termakan isu dan melakukan aksi main hakim sendiri terhadap orang yang dicurigai sebagai pelaku penculikan tanpa bukti yang pasti.  Selain itu fenomena hoax yang paling kentara bagi kita adalah saat pertarungan pada  Pilkada DKI Jakarta 2017. Banyak bertebaran informasi hoax yang ditujukan untuk menjatuhkan dan bahkan yang lebih ekstrim adalah untuk membunuh karakter calon yang bertarung. Karena informasinya viral dan serta merta dianggap sebagai sebuah kebenaran umum. Hal ini membuat pendukung calon bersiteru tiada henti. Baik di media sosial maupun di keseharian. Banyak akibat yang ditimbulkan oleh berita hoax salah satunya adalah akan menimbulkan perpecahan dan keresahan dalam kehidupan masyarakat.

     Sebagai pengguna media sosial kita harus cerdas dan kritis dalam menyikapi suatu informasi, dengan melihat fenomena hoax akhir-akhir ini sebaiknya kita perlu memperbanyak referensi tentang suatu permasalahan agar tidak terjebak oleh berita hoax dan ikut menyebarluaskannya. Memperbanyak bahan bacaan tentu akan menambah wawasan agar kita semakin cerdas dalam menangkal berita hoax.


Minggu, 30 Oktober 2016

Menulis Straight-News

Foto: Stipula Pen/ wikimedia.org

 


Menurut Lary Kurtzman dan Dennis G. Jerz (1999) berita langsung (hard news/straight news) dibuat dengan tujuan agar pembaca dapat menghentikan bacaannya kapan pun dia inginkan dan dapat melanjutkannya lagi kapan pun dia mau. Tujuan penulisan berita langsung berbeda dengan penulisan feature atau artikel yang bertujuan untuk mendorong pembaca menyelesaikan bacaannya hingga ke akhir cerita atau tulisan tersebut. Oleh karenanya, tidak perlu membuat “kesimpulan” dalam sebuah berita langsung . Pembaca berita lempang biasanya mengakhiri bacaannya ketika merasa bosan, dan cenderung tidak banyak pembaca yang menyelesaikan hingga akhir tulisan.


Judul berita:
JUDUL berita (News Title, Headline) adalah bagian terpenting sebuah berita. Karena bagian terpenting, maka bagian ini pula yang tersulit dalam proses penulisan berita. Headline (judul berita) berisi kata-kata penting yang menyampaikan subjek berita dan menggambarkan isi berita. 
         Judul berita memiliki karakteristik:
  1. Judul berita adalah kalimat abstrak
  2. Biasanya hanya terdiri dari 5-10 kata 
  3. Berupa pemikiran/gagasan lengkap
  4. Terdiri dari Subjek dan Kata Kerja (Predikat) dan sering juga dilengkapi Objek

                                    
Teras berita (atau lead):
Kalimat pertama dalam berita, merupakan salah satu bagian yang terpenting dalam berita. Gunakan teras berita sebagai pemicu bagi pembaca untuk meneruskan bacaannya hingga kepada isi dan akhir berita yang Anda buat. Untuk itu, menyajikan teras berita yang tepat dan menarik menjadi penting.

Kutipan langsung:
Kutipan pada dasarnya yang berperan memberikan “kehidupan” ke dalam sebuah berita. Tapi penulisan kutipan langsung perlu kecermatan. Kita harus bisa memilah pernyataan mana yang akan kita tuliskan sebagai kutipan langsung dan mana yang tidak. Relevansi adalah kuncinya. Jangan sertakan kutipan langsung yang tidak relevan. Selain itu, juga diperlukan aspek cita rasa bahasa di sini. Jangan sampai kutipan yang digunakan justru menjadikan alur cerita menjadi janggal atau bahkan kering.

Kutipan tidak langsung:
Digunakan ketika sebuah pernyataan penting untuk diinformasikan dan tetap merujuk kepada narasumber tertentu. Perlu diperhatikan apa bedanya kutipan tidak langsung ini dengan kutipan langsung.

Piramida terbalik:
Berita lempang (straight news) menggunakan metode penulisan piramida terbalik. Maksudnya adalah kita menyajikan informasi yang paling penting di bagian teratas suatu berita—karena biasanya pembaca akan berhenti membaca pada beberapa paragraf awal berita saja, oleh karena itu pastikan bahwa mereka sudah mendapatkan informasi yang penting di bagian awal berita tersebut. Taruh bagian yang dianggap kurang penting pada bagian akhir berita. Jangan masukkan informasi yang tidak penting ke dalam berita sama sekali.

Panjangnya paragraf:
Gunakan paragraf sesingkat mungkin. Satu, dua, atau tiga kalimat dalam satu paragraf sudah cukup. Paragraf yang terlalu panjang membuat pembaca bosan atau malas untuk membacanya. Jika memang informasi yang ingin disampaikan lumayan banyak sebaiknya dipecah saja menjadi paragraf yang lain.

Objektivitas:
Pembaca sama sekali tidak tertarik dengan opini wartawan terhadap suatu peristiwa atau fakta. Sebaik mungkin hilangkan posisi Anda sebagai penulis dalam berita Anda. Jangan pernah tunjukkan opini Anda dalam tulisan. Setiap klaim atau opini yang disajikan harus merujuk atau dirujukkan kepada orang lain atau narasumber Anda. Biarkan fakta atau narasumber yang berbicara, bukan wartawannya.

Sumber:
http://jerz.setonhill.edu/writing/journalism/news.htm

Jumat, 16 September 2016

Selamat Milad Ke-50 Korps HmI-Wati




Korps-HMI-Wati (KOHATI) sebagai badan khusus HMI, didirikan pada tanggal 2 Jumadil Akhir 1386 H bertepatan dengan tanggal 17 September 1966 M pada Kongres VIII di SOLO. Adapun fungsi KOHATI adalah sebagai wadah peningkatan dan pengembangan potensi kader HMI di dalam wacana keperempuanan.

KOHATI kini sudah berusia 50tahun yang jika dibandingkan dengan usia manusia 50tahun sudahlah tua. Namun dengan usia yang tua ini sudahkah kohati mencapai tujuannya.

Dalam  tafsir tujuan  KOHATI, disebutkan bahwa KOHATI bertujuan:
Terbinanya muslimah yang berkualitas insan cita. Sebuah organisasi diperlukan tujuan yang jelas, sehingga setiap usaha yang dilakukan oleh organisasi tersebut dapat dilaksanakan dengan teratur dan terarah.

KOHATI dibentuk  bukan semata-mata sebagai pelengkap HMI.

"Jadilah KOHATI yang tangguh'' 

Penulis : Riki Maulana

KOHATI DAN MASA DEPAN

Oleh : Andika Lestari
Ketua Umum HMI Cabang Sintang Periode 2016-2017

Saat ini KOHATI telah berusia 50 tahun sejak kelahirannya pada tanggal 2 Jumadil awal 1386 H atau bertepatan pada tanggal 17 September 1966 M. KOHATI merupakan singkatan dari Korps HMI-wati, yang merupakan salah satu badan khusus HMI yang bertugas membina, mengembangkan dan meningkatkan potensi HMI-wati dalam wacana dan dinamika gerakan keperempuanan.
Sebagai lembaga perkaderan, KOHATI sesungguhnya memiliki tujuan yang mulia, yakni terbinanya muslimah yang berkualitas insan cita. Berbagai dinamika perkembangan KOHATI dari periode ke periode menunjukkan karakter dan pencirian yang berbeda-beda. Misalnya saja dapat dilihat pada awal pembentukannya, terdapat tiga semangat yang melatarbelakangi lahirnya KOHATI ini, yakni eksistensi, aktualisasi serta akselerasi. Eksistensi yang dimaksud adalah adanya suatu semangat dan kesadaran dari kaum hawa untuk dapat menjadi subjek dalam pembangunan bangsa. Eksistensi KOHATI menjadi salah satu hal yang sangat penting, karena ia menjadi “laboratorium hidup” dalam menghasilkan HMI-wati yang berkualitas menghadapi masa depan. Sedangkan, aktualisasi bermaksud untuk menyatakan dalam tindakan nyata untuk mengadakan pembaharuan dan perbaikan dalam menghadapi tantangan zaman yang senantiasa berubah. Serta, akselerasi adalah semangat dalam melakukan percepatan peran sosiologis dan politis, ditunjukkan sebagai lembaga yang ikut mewarnai masa depan Indonesia.
Pembaharuan yang terjadi diberbagai belahan dunia dalam hal membangun kesetaraan masih bergulir hingga sekarang. Pada akhirnya gerakan keperempuanan diseluruh dunia memiliki kekuatan tersendiri. Di Indonesia para pejuang nasionalisme dari kaum perempuan telah ada jauh sebelum kemardekaan Indonesia, seperti Cut Nyak Dien, Kartini, Dewi Sartika dll. Hal ini seharusnya menjadi cerminan bagi KOHATI untuk terus melakukan pembaharuan dalam membangun gerakan yang lebih aktif. KOHATI sebagai salah satu pilar HMI, memiliki fungsi dan peran khusus dalam menjalankan misi organisasi. KOHATI yang merupakan perpanjangan tangan organisasi induk dalam wacana keperempuanan harus mampu mengawal isu yang berkembang dimasyarakat dalam bidang keperempuanan.
Memperhatikan hal tersebut, KOHATI saat ini belum banyak menyumbangkan pemikiran-pemikiran brilian jika dibandingkan dengan sumbangsih HMI. KOHATI sebagian besar hanya menjadi penonton tanpa melakukan upaya perbaikan baik itu ditubuh KOHATI maupun terhadap bangsa. Kebesaran KOHATI saat ini masih menumpang pada kejayaan HMI dimasa lalu. Pertanyaan yang lahir, akan kah KOHATI tetap seperti ini?
Jika ditinjau ulang tujuan KOHATI menciptakan muslimah insan cita. Seperti yang kita ketahui, empat kriteria muslimah insan cita, terdiri dari kepribadian muslimah, Intelektual, Profesional dan Mandiri untuk tetap menegakkan bendera HMI dalam bidang pergerakan perempuan. Hal ini perlu dimiliki oleh KOHATI, jika KOHATI mempersiapkan diri untuk melahirkan kader-kader impian. Kenyataan yang selama ini terjadi KOHATI hanya jalan ditempat dan terkurung oleh konflik internal dalam tubuh KOHATI. Seperti lemahnya koordinasi gerakan, kurang solid antar pengurus KOHATI baik ditingkat komisariat maupun KOHATI cabang. Terlebih dengan banyaknya isu keperempuanan yang berkembang dimasyarakat dan belum mampu untuk menyikapi isu kewanitaan yang ada. Dengan demikinan momentum milad KOHATI yang ke 50 menjadi tonggak KOHATI agar memahami tujuan utama KOHATI dan bagaimana mencapai tujuan tersebut agar terlahir kader KOHATI yang tangguh dan berwawasan luas.
“Berjuanglah sesuai kemampuan dalam bidangmu masing-masing. Dengan terus berusaha memperbaiki kualitas diri, sejatinya kita (wanita) juga sedang berjuang untuk membangun bangsa ini”
Daftar Pustaka
Editor : Riki Maulana

Rabu, 14 September 2016

CATATAN SEORANG KADER



Oleh : Riki Maulana

Kabid PPD HmI Cabang sintang 2016-2017

Kurang lebih 3 tahun saya berkader di HmI Cabang Sintang, telah banyak pengalaman yang dilalui sehingga mendapat banyak pelajaran yang berguana untuk memperbaiki diri. Hal yang memotivasi saya untuk bergabung dengan hHmI adalah perkataan seorang senior HmI pada saat maperca di HmI komisariat FISIP Unka yaitu, “Kalau kamu masuk HmI, maka sadaramu ada dimana-mana”. Atas dasar itulah saya memutuskan untuk mengikui LK1 (Basic Training) yang merupakan perkaderan tingkat pertama di HmI.

Sebagai mahasiswa baru yang notabene pernha malang melintang didunia organisasi seperti OSIS, PRAMUKA, PASKIBRA dan PKS tetap saja saat itu saya mengalami kegagapan dalam menjalani kehidupan awal kampus yang sangat jauh berbeda jika dibandingkan dengan kehidupan disekolah yang mana kemandirian dan kegesitan sangat dibutuhkan didunia kampus. Disitulah awal mula saya merasakan manfaat bergabung diHmI, pada saat bingung dalam beradaptasi dengan kehidupan kampus, saya dapat bertanya dan meminta saran kepada kanda dan yunda senior HmI yang dengan senang hati berbagi Ilmu dan pengalaman dengan saya yang masih mahasiswa baru saat itu.

Berkader diHmI merupakan hal yang menyenangkan sekaligus bermanfaat untuk meningkatkan kemapuan mengelola diri dan kelompok. Dimana diHmI kita dihadapkan dengan berbagai macam persoalan yang menunggu untuk dipecahkan dengan cepat dan tepat. Disitulah kadar Intelektual dan Emosional saya sebagai kader HmI diuji dan dilatih sehingga menjadi tangguh dan tahan banting.

Lantas apa manfaat bersusah payah berkader diHmI? Kamu kenal Munir (Aktvis HAM), M. Arifin Ilham (Tokoh agama), Akbar Tanjung (Ketua DPR 1999–2004), Jusuf Kalla (Wapres), Anies Baswedan (menteri), Ahmad Syafii Maarif (ketua umum muhamadiyah 2000-2005). Jika kenal, apa persamaan dari tokoh-tokoh diatas.? Mereka sama-sama pernah berkader diHmi.

Dari tokoh-tokoh tersebut saya semakin yakin bahwa berkader diHmI bukanlah yang percuma, karena HmI juga dikenal dengan proses perkaderannya yang baik dan jelas. Dalam HmI ada 3 jenjang perkaderan yaitu, Basic Training (LK1), Intermediete Training (LK2) dan Advance Training (LK3). Jadi jika telah melalui semua jenjang training matang sudah perkaderannya diHmi.

Di HmI juga tidak dikenal dengan kata pesimis jika menghadapi persoalan karena di HmI ada istilah YAKUSA atau Yakin Usaha Sampai yang memacu semangat pantang mundur untuk mencapai tujuan walau rintangan menghadang.

Yakin Usaha Sampai

Selasa, 13 September 2016

Idul Adha dan Pengabdian Kader HmI






Oleh : Yanto
Ketua Umum HmI cabang Sintang Periode 2015-2016

Idul Adha atau di kenal juga dengan hari raya kurban di rayakan pada tanggal 10 dzulhijjah oleh seluruh umat islam di seluruh pelosok dunia. Hari raya ini menginggatkan kita akan keikhlasan seorang nabi Allah, Ibrahim As yang rela menyembelih anaknya, Ismail As. Pengorbanan yang maha dahsyat itu menjadikan kita sebagai umat muslim untuk di taati sebisa mungkin, tentu dengan kemampuan yang kita miliki, tanpa harus merasa berat dan terbebani.

Sebagai seorang mahasiswa, kita memiliki pekerjaan rumah (pr) untuk selalu di perhatikan dan berharap akan bisa di kerjakan dengan tuntas. Pr kita sebagai mahasiswa bukan hanya kesibukan di kampus untuk meningkatkan nilai-nilai akademis yang akan mempengaruhi IPK kita. Namun meninggalkan kepedulian kita akan saudara-saudara kita yang hidupnya serba susah, tertindas oleh zaman dan pemangku kekuasaaan yang terkadang hanya menguntungkan orang-orang besar yang memiliki kepentingan serta menindas kaum rendah yang serba susah.

Namun tidak hanya itu juga, di bagian-bagian terpencil setiap kota juga hidup saudara-saudara kita yang mengalami nasib yang kurang beruntung, walau terlahir dengan segala kesempurnaan yang di berikan tuhan kepada mereka tetapi tidak bisa memaksimalkan apa yang telah tuhan berikan, dan pada akhirnya hanya menjadi kuli di negeri sendiri. Lantas apa yang harus kita lakukan sebagai mahasiswa, jika yang kita perhatikan hanya keperluan dan kepentingan diri sendiri, menutup mata kita rapat-rapat untuk kepentikan orang banyak yang ada di sekitar kita.

Himpunan Mahasisa Islam yang dikenal dengan nama HmI merupakan organisasi tertua yang lahir setelah 2 tahun Indonesia merdeka tepatnya 05 Februari 1947 oleh kakanda Lafran Pane. HmI selalu jaya, karena memiliki ciri khas yang jarang di miliki oleh organisasi lain, yaitu perkaderan. Selama perkaderan HmI berjalan, selam itulah HmI akan selalu ada dan memberikan warna untuk umat dan bangsa. 

Dalam menjalankan organisasi, kita dihadapkan pada diri kita, umat serta bangsa. Kita tidak hanya fokus terhadapan urusan-urusan yang hanya menguntungkan diri sendiri, jauh dari itu semua, kader HmI berbuat untuk kepentingan orang banyak. Semua itu tidak akan berjalan dengan baik kalau kita tidak punya semangat untuk berkorban dan berbuat kebaikan, berikan sentuhan terbaik untuk negeri ini, walaupun hanya sebaikan kecil, jika seluruh indonesia berpikiran yang sama, maka hal yang kecil tadi menjadi kekuatan terbesar untuk terus membangun dan menciptakan negara adil dan makmur yang diridhoi Allah SWT.

Dalam rangka perayaan idul kurban ini saya secapa pribadi mengajak semua kader HmI untuk terus berbuat demi satu tujuan, tujuan yang mungkin di inginkan oleh kakanda Lafran Pane, berkarya membangun umat dan bangsa. Dan perhatianku tertuju pada generasi-generasi yang ada di himpunan tercinta ini.
Salam, Yakusa

Editor: Riki Maulana

Subscribe & Follow